Rabu, 24 Februari 2016

SEJUTA INSPIRASI DI MALAM SUMPAH PEMUDA BERSAMA PUSTAKA TROPIS WANADRI

“Percayalah, cuaca terbaik datang setelah badai terparah"


Penggalan Motivasi yang menjadi penyemangat dari sang Motivator Irfan Ramdhani.Dari banyak nya kata –kata motivasi yang dikemukakan oleh irfan ramadhani secara pribadi sangat menyentuh sekali dan sangat memberikan inspirasi dan penyemangat bagi seluruh umat manusia termasuk saya sendiri,dalam menghadapi sebuah tantangan hidup,dimana pada dasar nya setiap manusia pasti mempunya tantangan dalam kehdupan dengan bebrbagi warna problema hidup,Mampu atau tidak nya dalam menjalani kehidupan itu kembali lagi pada personal nya masing-masing.
Tepatnya pada tanggal 30 Oktober 2015 saya mencoba mengikuti kegiatan yang diadakan oleh pustaka tropis wanadri ,dimana ini kali pertama saya mengikuti kegiatan yang dinaungi oleh wanadri,perama mendaptkan informasi tentang kegiatan ini pada awalnya tidak tertarik sama sekali ,tapi setalah dibaca dengan seksama dari pembicaranya dan saya juga lihat dari judul buku yang di tampilkan pada poster ,banyak sekali judul buku yang saya sudah pernah baca salah satunya buku karya irfan Ramdhani yaitu “Tabah sampai akhir “.buku ini bisa dibilang menjadi buku favorit saya dalam mengahdapi bebrbagai problema hidup selama inii,munkin saya salah satu orang beruntung  dengan bisa bertemu langsung dan bertanya langung pada penulis nya yang sangat luar biasa sekali.
Hidup Memang sering menguju kita dari bebagai tantangan dan cobaan ,akan tetapi hidup pula lah yang mengajarkan kita akan arti makna dari ketabahan dan kesabaran.Mengajarkan kita untuk berdiri kuta dan kokoh  bagiakan semen yang nenjadikan  kokoh sebuah rumah ,dan bagaiakan batu karang yang kuat diterpa oleh ombak yang besar begitupun sebuah arti kehiduppan.
Irfan Ramdhani tidak menyangka sama sekali bahwa hoby dari sejak kecil ini yaitu naik gunung justru menjdi sumber mala petaka dan musibah baginya.saat ia berlatih panjat tebing di kampus,ia terhempas dan terjatuh dari ketinggian kurang lebih sepeuluh meter (10m).dan ia sempat divonis oleh dokter tidak dapat berjalan lagi seumur hidup .
Namun ,hiudup tidak perlu disia-siakan .Dengan menggunakan tongkat penyangga,Irfan berhasil mewujudakn impianya dan harapanya satu persatu,dari mulai sebagai pembicara dari berbagai seminar dan masuk ke salah satu televisi Indonesia.dan ia membuktikan bahwa semangat dan usahanya mampu mengalahkan segala keterbatasnya.

            saya melihat pertama kali yaitu pada salah satu  televisi swasta di Indonesia,Melalui Indonesia Morning Show NET TV pagi ini (15/6) Irfan hadir menceritakan perjuangannya demi dapat kembali berjalan. Ia berhasil membangun lagi kakinya setelah menjalani terapi selama tiga bulan. Irfan juga menjalani latihan diving sekaligus terapi untuk kakinya di Laut Nusa Penida, Bali, bersama Bali International Diving Professional (BIDP). Terapi tersebut ia dapat dari rekomendasi yang diberikan oleh Riyani Djangkaru. Salah satu tokoh yang menginsiprasinya dan juga menjadi idolanya.
Sepasang tongkat kini tak pernah jauh dari Irfan Ramdhani sejak kakinya lumpuh. Irfan sempat membayangkan tak lagi bisa mendaki gunung, arung jeram, susur goa, hingga panjat tebing yang menjadi kegemarannya selama ini.
, “Keterbatasanku tidak membatasiku untuk menembus batas, karena keterbatasan bukan suatu hambatan dan bahwa tabah bukan di awal, tabah juga bukan di pertengahan, tapi tabah sampai akhir,
            Pada waktu yang bersamaan ia juga diputus cinta oleh sang kekasih.Namu pria ceria ini tak mau berlama-lama larut dalam kesedihan.Irfan kembali menjadi petualang alam sejati meski di tengan segala keterbatasnya.

Sepasang tongkat itu akhirnya menemani Irfan mendaki Gunung Semeru, Jawa Timur dan Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Tak hanya bagi Irfan, dua gunung itu memang diidamkan para pendaki. Gunung Semeru merupakan gunung berapi tertinggi di Pulau Jawa dan Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi kedua di Indonesia. Tak ada yang menyangkal, kedua gunung itu menyuguhkan karya indah Sang Maha Pencipta.

Ini saya coba cantumkan review buku tabah sampai akhir yang ditulis oleh temen sekeelas saya ,saya tertarik buku ini setelah mendengarkan apa yang telah dibaca dan pahami oleh teman saya pada saat membaca buku ‘Tabah Sampai Akhir”
Irfan. Satu nama yang membuatku semakin bersyukur masih memiliki anggota tubuh yang masih berfungsi dengan baik.
Alam. Tuhan. Keindahan. Syukur. Tabah.
Saya sebenarnya tidak sengaja menemukan buku ini di acara bazar Gramedia Pandaranan Semarang ketika sedang mencari buku Helen Keller (Yang tersedia di Gramedia Balaikota). Melihat testimoni dari beberapa orang yang menjadi inspirasi penggerak pemuda-pemudi di Indonesia, Anis Baswedan, Riyani Djangkaru, Anisa Andrie (penulis novel menikahlah denganku), dan masih banyak lagi insporator yang ikut mendukung Mas Irfan meraih impian-impiannya dan anak Indonesia lainnya. Sungguh buku ini menjadi pecutan bagi saya sendiri, yang hampir selama ini menyia-nyiakan waktu dan malah menjadi orang yang sering mengeluh. Tamparan hebat, tepat di hati saya ketika membaca tuntas cerita mas Irfan.
Sebenarnya. Hidup ini hanya sekali. Kenapa, hidup ini penuh dengan pertanyaan-pertanyaan hidup, mungkin keluhan hidup ini kurang adanya rasa syukur. Setelah kenikmatan itu dicabut semua oleh Allah, barulah manusia menyadari betapa kerdilnya manusia di mata Allah. Menyesali perbuatan yang telah dilakukan ketika nikmat itu hanya dipenuhi dengan keluhan yang tidak penting, tentang kehidupan.
Bercermin dari kejadian yang mas Irfan alami membuat saya tersadar. Saya memang manusia yang masih jauh dari sempurna.
Beberapa tahun yang lalu saya pernah melihat mas Irfan nongol di acara televise, Kick Andy. Sungguh, dari sana saya sudah ngilu sendiri, ia tak pantang menyerah menghadapi cobaan yang ia alami. Dan tara, tahun ini saya menemukan buku yang menarik: Tabah Sampai Akhir. Kembali ke review buku.
            Dibagian pertama diceritakan mengenai sosok Irfan yang mencintai alam. Ia bisa merasakan Tuhan menciptakan itu semua dengan Maha sempurna. Bentuk kecintaan alam dan menambah kedekatan dengan Tuhan mas Irfan tunjukkan dengan mengikuti segala kegiatan yang ada hubungannya dengan alam di kampusnya. Dia bergabung dengan Mapala di kampusnya. Waktu itu ia sudah mendaki dua gunung. Tahun itu ia ingin sekali mendaki gunung Semeru. Untuk melatih fisik setiap hari ia melakukan beberapa pemansan yang digunakan untuk bekal mendaki ke Semeru. Mungkin hari itu Tuhan ingin menyapa lebih dekat mas Irfan. Saat latihan wall-climbing di kampusnya tali yang digunakan untuk menopang tubuh mas Irfan putus tanpa sebab, dan itu menyebabkan mas Irfan di nyatakan lumpuh total.
Bagian selanjutnya menceritakan kegigihan mas Irfan yang sempat patah semangat menjalani hidupnya, mas Irfan putus cinta saat orang terkasihnya memutuskan hubungan secara sepihak setelah mendengar 90% mas Irfan lumpuh.
Nasib memang sudah ada yang mengatur. Jika kita bisa memilih untuk memutar waktu pada hari yang nahas itu, pasti mas Irfan memilih untuk tidak melakukan climbing di wall kampusnya. Memilih menghabiskan hari di kafe menikmati sore dengan secangkir kopi.
Sayangnya, waktu tidak bisa diputar mundur, dan apa yang telah terjadi tidak bisa disesali. Sementara divonis semua ahli alternatif tidak bisa berjalan, Irfan tidak patah semangat. Memupuk harapan, mengunduh optimis tanpa batas, tabah sampai akhir. Hingga akhirnya Irfan melakukan pijat alternatif, melakukan praktik duduk, disusul berjalan menggunakan alat bantu, semua proses itu dilakoni dengan tabah. Dan akhirnya keajaiban itu menyertai Irfan, dengan bantuan krak ia bisa berjalan.
Ada seorang temannya yang memberikan Irfan buku 5 cm, yang menumbuhkan harapan baru, bahwa ia suatu saat bisa mewujudkan mimpinya untuk bisa sampai di puncak Semeru.
Hari yang dinantinya datang juga, banyak teman-temannya yang mendukungnya untuk mewujudkan impiannya itu, Alhamdulillah…meskipun prosesnya tidak mudah, banyak orang yang memandang sebelah mata, bahwa mas Irfan dengan menggunakan kruk tidak bisa naik di gunung. Tapi, semua nada pesimis itu bisa ditepis. Dengan perjuangan yang berdarah-darah, mengesor, berjalan mundur, berjalan seperti kepiting, dan normal menggunakan kruk akhirnya mas Irfan sampai di Ranu Kumbolo. Ia mengajarkan kepada saya bahwa semua itu memiliki kesempatan untuk mewujudkan impian, asalkan ia benar-benar berjalan di jalannya sendiri.
Apalagi bagi orang-orang yang masih memiliki organ tubuh yang sempurna. Yang masih sering mengeluh kecapekkan ketika melakukan semua kegiatan hidup yang dilalui. Oh hidup. Betapa hal yang dikerjakan dengan hati itu insyaAllah berkah. Amiiin.

Tuhan memang Maha segalanya, diakhir memoar mas Irfan ini, mas Irfan menumbuhkan mimpi baru untuk bisa menakhlukkan Rinaji, dan semua impian itu menjadi nyata ketika niat benar-benar sudah terpatri di dalam dada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar